Sabtu, 01 April 2017

JAGALAH HARGA DIRIMU

KH. Imam Zarkasyi
(Pendiri Pondok Modern Gontor)

Ketika berusia 40-50 tahun, ada yang mengajak saya nonton film di bioskop. Film itu dibintangi artis terkenal tahun 1950-an, Nurnaningsih. 

Di dalam cerita itu, Nurnaningsih menjadi gadis ‘panggilan’. Dia tinggal di suatu rumah. Sebentar-sebentar ada mobil yang datang mengambilnya dan kemudian mengembalikannya. Begitu berulang kali. 

Kemudian bintangnya satu lagi seorang pemuda bekas pejuang, masuk kota. Dia tidak punya apa-apa. Pakaiannya agak kumal. Dia tidak begitu gagah. Tapi Nurnaningsih (Nung) jatuh cinta kepada pemuda yang bernama Edy itu. 

Saat adegan berdialog antara mereka berdua, ada ungkapan yang sangat menggores hati. 

Dalam dialognya, Edy berkata kepada Nung yang isinya terkesan mengejek. "Kamu Nung, mewah. Rumahmu bagus, pakaianmu serba indah. Tapi kamu murah, bisa dibeli. 
Saya kaya. Segala apa-apa ada pada saya, hanya uang saya tidak punya.”

Sepulang menonton, kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telinga. Saya berpikir. "Punya segala-galanya tapi tidak punya uang". 

Sesudah beberapa minggu, barulah saya mengerti cerita ini. Ternyata, orang yang masih bisa dibeli itu murah. Tidak ada harganya. 

Yang mahal itu yang tidak bisa dibeli. Ilmu tidak bisa dibeli. Orang bisa dibeli. Ada lagi yang lebih mahal dari ilmu, yaitu harga diri atau kehormatan. Inilah yang sama sekali tidak bisa dibeli. 

Orang yang pernah tidak jujur, seumur hidup tidak dipercaya. Orang yang pernah menipu, sulit mendapat kepercayaan. 

(Sumber: Majalah Gontor dg diringkas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar