Minggu, 31 Desember 2017

DAKWAH MEDIA dan MEDIA DAKWAH di MUHAMMADIYAH

Oleh: Ustadz Jamaluddin Ahmad 

Sekitar tahun 2012, saya diundang untuk memberikan pengajian pada acara Pelantikan Pengurus Ranting Muhammadiyah dan Ranting 'Aisyiyah di salah satu Ranting yg baru saja berdiri di Salah satu kelurahan di Kabupaten Kebumen. Yang unik dan menarik dari pelantikan ini karena hampir semua pengurusnya adalah pamong desa di kelurahan tersebut. Ketua Rantingnya adalah Pak Lurah /Kepala Desa yg sebentar lagi akan purna tugas. Ibu Ketuanya Aisyiyahnya juga bu lurah.

Peresmian Ranting dan pelantikan pengurusnya benar benar meriah karena ada acara pawai keliling kelurahan sekitar 4 km. Seluruh ambulan Milik RS Muh di kebumen dan sekitarnya tampil, seluruh pelajar dan mahasiswa muhammadiyah se PCM Gombong tumpah Ruah, Tampil Juga Marching Band SMP Muh Gombong dan yg unik adalah tampilnya barisan Kuda  yg bisa menari lengkap dg grup musik pengiringnya.

Memang sangat meriah dan memiliki syiar dakwah yg luar biasa. Temen temen dari PKU Muh Gombong mendukung penuh acara tersebut. Sayangnya, acara yg unik tersebut tidak ada peliputan dari media yang dimiliki oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Kebumen dan Gombong yang Muhammadiyahnya sangat maju dan dinamis namun lumpuh ketika menyangkut dakwah media persyarikatan. RS PKU nya banyak dan bagus bagus, STIKESnya juga dahsyat, namun dakwah media dan media dakwahnya perlu perhatian yang khusus.

Setelah pengajian, saya dipanggil Ust Professor Daelami yang waktu itu hadir sebagai Ketua PWM Jateng yg membidangi LPCR juga sebagai BPH Stikes Muh Gombong.Profesor berkata pada saya, " Hai anda orang Pimpinan Pusat (waktu itu saya sebagai wakil ketua LPCR PP juga sebagai Salah seorang direksi RSIJ CP sebagai AUM PP Muh), Apakah mereka yang di pimpinan pusat itu tidak tahu dan tidak mikir kalau di daerah daerah banyak sekali warga Muhammadiyah yang keluar dari Muhammadiyah gara gara setiap hari nonton TV TV dakwah yang banyak muncul di TV satelit. Juga banyak warga Muhammadiyah yang setiap hari mendengarkan siaran siaran dakwah di radio radio dakwah yang dikelola non Muhammadiyah. Banyak diantara mereka yang kemudian lebih tertarik dakwah mereka dan akhirnya tidak tertarik dakwah Muhammadiyah". Beliau waktu itu banyak sekali kekecewaanya terhadap PP Muhammadiyah yang kurang peduli terhadap dakwah media dan media dakwah tekevisi dan radio.

Kesedihan Professor Daelami waktu itu ditumpahkan ke saya karena saya dianggap sebagai orang PP. Padahal saya bukan Pengurus inti PP Muh juga bukan pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muh. Namun apa yang beliau sampaikan memang benar bahwa waktu itu Muhammadiyah sangat abai atau lalai menggarap dakwah media dan media dakwah khususnya radio dan Televisi. 

Apa yang Prof Daelami rasakan juga saya rasakan. Sedih memang, Muhammadiyah yang dinilai maju dan modern namun sangat ketinggalan di dakwah media dan media dakwah televisi,radio juga dakwah di media maya. 

Ketika saya "dimarahi" Prof Daelami, sebenarnya dalam diam kami sudah satu tahun mendirikan televisi dan radio di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih yg waktu itu kami namakan "RSIJ TV". Alhamdulillah TV ini th 2012 memenangkan(Juara Pertama) PERSI AWARD dan mewakili indonesia diajang pemberian Award Rumah Sakit se Asia di Thailand.Untuk menjawab marah dan kecewanya Prof Daelami, akhirnya  Prof Daelami saya Undang untuk Ceramah dan memberikan tausiyah di RSIJ CP sekaligus Shooting materi pengajian dari beliau hingga 6 episode. Beliau juga pada ahad paginya saya minta ngisi pengajian SIAP (Study Islam Ahad Pagi) di ranting kami di PRM Kukusan Satu Beji Depok Jabar. Saya bahagia, karena melihat Prof Daelami terharu dan bahagia, ternyata RSIJ Sudah merintis dakwah melalui televisi yang dikelola dg baik.

Saya memang sedih dan kecewa karena Muhammadiyah waktu itu tidak serius menggarap IJTIHAD, TAJDID dan JIHAD di Bidang Dakwah Media Telivisi dan Radio serta dunia maya.Namun salah satu ciri orang Muhammadiyah adalah tidak boleh berhenti pada ranah sedih dan kecewa tapi harus bergerak dan melakukan sesuatu untuk menghadirkan solusi. Maka mulai tahun 2009 diskursus/diskusi ttg masalah televisi ini saya gulirkan ke sesama direksi RSIJ CP. Alhamdulillah lama kelamaan temen temen direksi menyambut baik ide saya dan mendukung berdirinya televisi di Rsij Cp (Terimakasih pada Dokter Yusuf Saleh Bazed, Dokter Prastowo, Bu Ning juga Pak Eko Priyono). 

Akhirnya sekitar th 2010 rencana pendirian TV Rumah Sakit di Mulai dan th 2011 siaranpun dimulai.
Ketika RSIJ CP jadi tuan Rumah Pengajian Romadhon PP muh, utk pertama kalinya di dlm sejarah Muhammadiyah ada siaran Langsung Pengajian Ramadhon yang bisa disaksikan langsung oleh warga Muhammadiyah di daerah daerah. Bahkan Kakak saya di PRM Gaden Trucuk Klaten  waktu  itu mengadakan acara nonton bareng di Ranting. Yang lebih membahagiyakan lagi, ketika Prof Din Samsudin (Ketum PP Muh Waktu itu) sedang Sakit  di RSIJ, beliau kaget menyaksikan ada Channel RSIJ TV di channel siaran televisi yang ada di rumah sakit. Hari itu saya dipanggil beliau dan ditanya tentang RSIJ TV. Inti dari jawaban saya ke beliau bahwa RSIJ TV benar benar Station Televisi yang bila didukung dana sudah siap siaran dg media apapun. Bisa melalui media Satelit, bisa menjadi tv teristerial, bisa menjadi digital tv dst. Pak Din lalu bertanya pada saya, "apakah mas Jamaludin sanggup mendirikan TV untuk Muhammadiyah?". Saya jawab ..." insya Allah sanggub". Prof Din kemudian berkata, " kalau sanggup tolong segera buatkan Proposal pendirian TV Muhammadiyah, dan seminggu lagi setelah saya pulang dari Malaysia kita rapatkan di Kantor PP Muhammadiyah". 

Alhamdulillah pak Din benar benar serius. Dilakukan berkali kali rapat. Melalui SK PP Muhammadiyah saya diamanahi sebagai Sekretaris pendiri dan Prof Din Samsudin sebagai Ketua Pendiri. Melalui rapat dan perjalanan yang berliku, naik dan turun, tarik dan ulur, cemas dan optimis akhirnya lahirlah televisi milik muhammadiyah yang akhirnya dinamakan "TvMU" persis seperti yang kami usulkan dalam proposal. Sebuah perjalanan sdh dimulai, sebuah proses terus berlangsung. Memang masih banyak kekurangan dari sebuah TV dakwah  yang ideal dan sehat. Tapi kita bersyukur telah bisa memulai. Perbaikan utk peningkatan kualitas harus terus dilakukan. 

Saya berharap televisi yg dimiliki oleh Muhammayah tidak hanya satu dan berhenti di "tvMu". Televisi Muhammadiyah harus hadir sebanyak banyaknya dengan berbagai nama yang berbeda dan keunikan masing masing. Bila ada AUM (entah RS atau PTM) yang mampu mendirikan dan menyelenggarakan siaran TV, silahkan. Bila ada Ranting, Cabang, PDM atau PWM sanggup mendirikan TV, silahkan. Yang penting kita berjejaring dan membangun jaringan. Ummat Muhammadiyah sangat merindukan hadirnya dakwah dakwah yang berkualitas melalui televisi telivisi yang dikelola dan dimiliki oleh Muhammadiyah maupun orang orang Muhammadiyah.

Demikian juga dg media radio. LPCR PP Muhammadiyah telah menginisiasi KOPI DARAT PARA PENGGIAT DAN PENGELOLA RADIO MUHAMMADIYAH dan telah melahirkan JARIMU (Jaringan Radio Muhammadiyah). Kita juga wajib serius dakwah di media YouTube, Facebook, instagram dll. Semoga di zaman Muhammadiyah memasuki Abad ke dua ini kita bisa menjadikan dakwah media dan media dakwah TV, Radio, Youtube dan dunia maya(media online) menjadi bagian penting dari ijtihad, tajdid dan jihad kita. Terimakasih kepada team kami, teman teman Prodebee yang dengan bersabar bersama kami melahirkan tvMu dan sampai sekarang terus membersamai kami(bermimpi) utk melahirkan dakwah muhammadiyah melalui: channel kesehatan, channel wanita, channel khusus anak anak, channel khusus dakwah dst .

Semoga suatu saat nanti Muhammadiyah mampu menjadi yang terbaik dan terunggul dalam mengenggam media informasi dunia. Aamiin

( Omah Betawi, Ahad 17 Des 2017. Dalam kesedihan yang mendalam atas Nasib Masjidil Aqsha dan rakyat Palestina)

Diposkan di grup WA oleh Ustadz Agung Mabruri.

BELAJAR TOLERANSI DARI K.H. AHMAD DAHLAN & K.H. AZHAR BASYIR, M.A.

Oleh: Ustadz Fathurrahman Kamal
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
 
Baik secara konsep maupun aplikasi dalam sejarah, Islam mengajarkan toleransi yang luhur atas dasar tanggungjawab di hadapan Allah SWT. Al-Quran mengajarkan: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tak kan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah : 256). Demikian pula FirmanNya, "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." (QS. Al-An'am : 108)

Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Terhadap hak-hak non muslim dzimmi, Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa menzalimi non muslim yang terikat perjanjian dengan Islam, menghinakannya, membebaninya di luar batas kemampuannya, atau mengambil hartanya tanpa kerelaannya maka, akulah lawannya pada hari kiamat kelak" (HR Abu Dawud). Pada bagian lain, "Barangsiapa membunuh sesorang dari ahli dzimmah, ia takkan mendapatkan wangi surga, padahal wanginya bisa didapatkan dari jarak perjalanan selama tujuhpuluh tahun"(HR.Nasa'i).

Sikap toleran dan ketegasan dalam prinsip-prinsip Islam pernah ditunjukkan oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah yang kini memasuki usianya ke-105 tahun (1912-2017 M). Afiliasi dan keberpihakannya (al-wala') kepada Islam sangatlah jelas. 

Dalam konteks hubungan antar agama dan umat beragama beliau bukanlah pengusung faham Pluralisme ataupun sekularisme. Bahkan menurut Alwi Shihab, Muhammadiyah didirikan justeru sebagai respon terhadap praktek keagamaan yang menyimpang, gerakan Kristenisasi dan gerakan Freemason yang mengusung slogan kebebasan dengan jargonnya : liberty, egality dan fraternity.(Alwi Shihab:1998).

Tidak dinafikan, KH Ahmad Dahlan merupakan sosok yang berpikiran maju, terbuka dan toleran. Hal tersebut membuat Dokter Soetomo, seorang elite priyayi Jawa dan salah seorang pemimpin Budi Utomo kepincut dengan Muhammadiyah dan bersedia menjadi advisor Hooft Bestuur Muhammadiyah masa itu. Beliau juga sering berdialog pemuka agama Kristen. Diantaranya ialah; Pastur van Lith, Pastur van Driesse dan Domine Bekker. Keterbukaan beliau memang luar biasa, namun perlu dicatat secara adil sikap tegas KH Ahmad Dahlan dalam beraqidah.

Dalam dialognya bersama KH Ahmad Dahlan, Domine Bekker selalu berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya dan akhirnya pendiri Muhammadiyah ini mengajukan tantangan kepada pemuka Kristen untuk keluar dari agama masing-masing lalu mencari dan menyelidiki agama masing-masing. Demikian pula dialog terbuka Kyai Dahlan dengan seorang pemuka gereja, Dr. Lamberton yang akhirnya berujar, "Maaf, saya tetap berpegang kepada agama jang dipeluk oleh nenek mojang saya, karena ini menjadi kewajiban saya.(Yusron Asrofi:Kyai AhmadDahlan: Pemikiran & Kepemimpinannya, 2005).

Pada 1969, tokoh Muhammadiyah KH Ahmad Azhar Basyir, MA menyampaikan kuliah tentang Muhammadiyah di Akademi Kateketik Katolik Yogyakarta. Secara tulus Kyai Azhar Basyir menyampaikan ucapan terima kasih, bahkan merasa mendapat kehormatan dengan undangan dari Institusi Katolik tersebut. Ketika itu, Kyai Azhar Basyir menyampaikan ceramah dengan judul: "Mengapa Muhammadiyah Muhammadijah berjuang menegakkan tauhid jang murni?".

Kata Sang Kyai, "Karena Muhammadijah yakin benar-benar, dan ini adalah keyakinan seluruh umat Islam, bahwa tauhid jang murni adalah ajaran Allah sendiri. Segala ajaran jang bertendensi menanamkan kepercayaan "Tuhan berbilang" bertentangan dengan ajaran Allah. Dan oleh karena keyakinan "Tuhan berbilang" itu menyinggung keesaan Tuhan jang mutlak, maka keyakinan "Tuhan berbilang" itu benar-benar dimurkai Allah. Tauhid murni mengajarkan keesaan Tuhan secara mutlak. Kepercayaan bahwa sesuatu atau seseorang selain Allah mempunjai sifat ke-Tuhanan, disebut "syirik". Syirik adalah perbuatan dosa terbesar jang tidak diampuni Allah."

Sikap toleran, keterbukaan dan keteguhan iman KH Ahmad Dahlan, dan KH Ahmad Azhar Basyir terbaca di atas seharusnya menjadi referensi keteladanan yang otentik dalam merumuskan sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia, terkhusus Pimpinan dan warga Persyarikatan Muhammadiyah. Segala hal yang potensial meruntuhkan bangunan aqidah dan iman seorang muslim mesti disikapi secara tegas, adil dan beradab. Ketegasan sikap secara beradab dalam menjaga akidah umat Islam, tidak perlu dirisaukan. Apalagi disalahpahami sebagai sikap ekslusif yang akan melahirkan radikalisme keagamaan.

Tentang ucapan "Selamat hari Natal" dan hukum mengikuti Perayaan Natal Bersama, umpamanya, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan fatwa yang persis sama dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia. Di antara kandungan Fatwa tersebut ialah: "Umat Islam diperbolehkan untuk bekerjasama dan bergaul dengan umat-umat agama-agama dalam masalah-masalah keduniaan serta tidak boleh mencampuradukkan agama dengan aqidah dan peribadatan agama lain seperti meyakini Tuhan lebih dari satu, Tuhan mempunyai anak dan Isa Al-Masih itu anaknya. Orang yang meyakininya dinyatakan kafir dan musyrik. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan. Dalam konteks ini, perayaan Natal di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkara-perkara akidah tersebut di atas. Karenanya, mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram. Demikian pula mengucapkan Selamat Natal merupakan bagian langsung dari perkara syubuhat yang dianjurkan untuk tidak dilakukan.(Fatwa-Fatwa Tarjih, Cetakan VI, 2003, hal. 209-210).

Di antara keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah yang termuat dalam Berita Resmi Muhammadiyah, No 01/2010-2015 Syawwal 1431/September 2010, hal. 238 dinyatakan sebagai berikut: "Muhammadiyah menerima pluralitas agama tetapi menolak pluralisme yang mengarah pada sinkretisme, sintesisme, dan relativisme. Karena itu, umat Islam diajak untuk memahami kemajemukan agama dan keberagamaan dengan mengembangkan tradisi toleransi dan koeksistensi (hidup berdampingan secara damai). Dengan tetap meyakini kebenaran agamanya masing-masing, setiap individu bangsa hendaknya menghindari segala bentuk pemaksaan kehendak, ancaman dan penyiaran agama yang menimbulkan konflik antar pemeluk agama. Pemerintah diharapkan memelihara dan meningkatkan kehidupan beragama yang sehat untuk memperkuat kemajemukan dan persatuan bangsa."

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, Pedoman Hidup Islami (PHI) bagi warga Muhammadiyah menuntunkan bahwa, Islam mengajarkan agar setiap muslim menjalin persaudaraan dan kebaikan dengan sesama seperti dengan tetangga maupun anggota masyarakat lainnya masing-masing dengan memelihara hak dan kehormatan baik dengan sesama muslim maupun dengan non-muslim, dalam hubungan ketetanggaan...Dalam bertetangga dengan yang berlainan agama juga diajarkan untuk bersikap baik dan adil, mereka berhak memperoleh hak-hak dan kehormatan sebagai tetangga, memberi makanan yang halal dan boleh pula menerima makanan dari mereka berupa makanan yang halal, dan memelihara toleransi sesuai dengan prinsi-prinsip yang diajarkan Agama Islam. Wallahu A'lamu bil-shawab.

Diposkan di grup WA oleh Ustadz Syaifuddin.

Fatwa Tarjih Muhammadiyah Tentang Ucapan Selamat Natal

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan fatwa yang persis sama dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Diantara kandungan fatwa tersebut ialah ” “Umat Islam diperbolehkan untuk bekerjasama dan bergaul dengan umat-umat agama dalam masalah – masalah keduniaan serta tidak boleh mencampuradukkan agama dengan aqidah dan peribadatan agama lain seperti meyakini Tuhan lebih dari satu, Tuhan mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya. Orang yang meyakininya dinyatakan kafir dan musrik.

Poin pertama mengikuti perayaan natal bersama bagi ummat islam adalah Haram hukumnya dalam konteks ini, perayaan Natal di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkara-perkara akidah tersebut di atas.

Poin Kedua mengucapkan Selamat Natal dianjurkan untuk tidak dilakukan karena merupakan bagian dari perkara kegiatan perayaan Natal, agar Umat Islam tidak terjerumus kepada perkara syubhat dan larangan Allah swt. Islam mengajarkan kepada
umatnya untuk menjauhkan diri dari dari hal – hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan.

(Fatwa-Fatwa Tarjih, Cetakan VI, 2003 hal.209-210)

Diposkan di grup WA oleh Ustadz Tohari.