Selasa, 18 April 2017

OSTEOPOROSIS IDEOLOGI DALAM MUHAMMADIYAH 


Beberapa hari yang lalu saya diminta mengisi tabligh akbar di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Ramai juga yang hadir. Tapi dalam sesi tanya jawab saya menyadari ternyata permasalahan Muhammadiyah dimanapun di Sumatera ini hampir sama, "OSTEOPOROSIS IDEOLOGI".
Ruh Muhammadiyah itu adalah ideologinya. Dimana Islam, dakwah dan tajdid menjadi menjadi ikon tali berpilin tiga dan tiga tungku sejerangan. Muhammadiyah mustahil tanpa Islam. Muhammadiyah sirna tanpa dakwah dan Muhammadiyah lenyap tanpa tajdid.
Islam, Dakwah dan tajdid menjadi pondasi dan tempat berpijak di setiap level kepemimpinan dan Amal Usaha Muhammadiyah. Sehingga keberhasilan Muhammadiyah harus diukur  sejauh mana ketiga unsur itu menjadi jiwa yang menggerakkan, bukan pelengkap yang selalu ditepikan.
Rumah sakit Muhammadiyah tanpa ideologi akan betul-betul menjadi rumah yang sakit. Universitas Muhammadiyah tanpa ideologi akan melahirkan sarjana tanpa makna. Sekolah Muhammadiyah tanpa ideologi akan menciptakan siswa dan siswi tanpa jiwa dan budi. Demikian juga  Amal usaha yang lainnya, jika tanpa sentuhan ideologi akan melahirkan pekerja yang semangat berusaha tapi miskin beramal. Pada akhirnya Amal Usaha bukan berperan menjadi bidang dakwah dalam bingkai yang khusus, tapi sapi perah dari berbagai kepentingan. Kalau sudah begini, maka Amal Usaha berkembang maju sementara gerakan dakwah beringsut turun. Biang menunggu koyak, retak menanti pecah. 
Pemantapan ideologi ini suatu keniscayaan. Khususnya di kalangan kader. Sebab ternyata perkaderan formal yang ada tidak menjamin keteguhan ideologi. Sehingga memang perlu ada revolusi dalam sistem perkaderan. Kalau tidak akan banyak lahir kader kita ke depan yang  berbadan Muhammadiyah, tapi berjiwa jiran sebelah. Dan ini sudah merebak.
Aroma ilmiah sudah mulai pengap, sementara nuansa amaliyah kian gersang. Pengajian sepi, pengkajian semakin sunyi. Kalau sudah begini tentu amal akan melarikan diri. Tajdid berubah menjadi taqlid.
Lalu seorang peserta bertanya, kalau sudah demikian keadaannya, apa yang harus kita lakukan dan darimana memulainya ? Saya hanya bisa menajwab, kembali ke khittah perjuangan  Muhammadiyah dan  mulai dari lngkungan terkecil. Setiap kita adalah kader Muhammadiyah yang harus hidup dan menghidupkan Muhammadiyah. Sehingga setiap gerak dan langkah memancarkan cahaya al-Quran dan al-Sunnah sebagaimana yang termaktub dalam Tarjih. Belajarlah ikhlas bermuhammadiyah. Sebab kita yang butuh Muhammadiyah, bukan Muhammadiyah yang butuh kita. Tanpa kita persyarikatan ini tetap ada. Tapi jadilah orang yang membawa rahmat, bukan laknat di Muhammadiyah. Mulailah dari sekarang atau momennya akan hilang. Kita sudah punya nama baik, maka mari kita jaga baik-baik. Berjuanglah.......
Fb. Dr Saidul Amin, PW. M Riau
Diposkan ke grup WA oleh Ustadz Thohari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar