Kamis, 23 Februari 2017

JUJUR MUJUR

Seorang Tukang Kebun yg Jujur

Pd masa Tabiut Tabiin hidup seorang yg bernama Mubarok, seorang tukang kebun. Penjaga kebun apel milik orang kaya di kota Baghdad. Mubarok bekerja di kebun tsb sdh 3 tahun lamanya.

Pd suatu saat majikan Mubarok kedatangan tamu istimewa, seorang yg berpengaruh di kota Baghdad. 

Utk menjamu tamu tsb majikan Mubarok memanggil Mubarok dan menyuruhnya memetik apel yg paling ranum dan manis.

Mubarok memetik apel yg diperintahkan majikannya tsb dan disuguhkan kpd tamu istimewa itu. Ternyata apel yg disuguhkan rasanya asem (kecut). Majikannya sangat marah dan disuruh memetik kembali. Sampai 3 kali petik apel tetap asem.

Majikannya sangat marah kpd Mubarok krn malu dg tamunya. Di tengah kemarahan yg memuncak si majikan mengumpat Mubarok; kebangetan, bodoh masak 3 tahun kerja di kebun apel tdk bisa membedakan antara apel manis dan asem.

Ditengah umpatan dan makian tsb Mubarok bilang terus terang kpd majikannya bhw dirinya selama kerja 3 tahun di kebun apel tsb, blm pernah sekalipun merasakan apel di kebun itu. Krn perjanjian awalnya adl menjaga kebun apel bukan makan apel, maka dia tdk pernah makan sebuah apel pun walau setiap hari menjaga apel.

Dengan jawaban Mubarok yg jujur tsb majikannya merasa heran bercampur takjub pd akhirnya majikan Mubarok semakin menghargainya dan mempercayainya. 

Penghargaan majikan kpd Mubarok krn kejujurannya sampai mengantarkan Mubarok menjadi tempat konsultasi majikannya dlm masalah-masalah agama. Belum lagi prilaku, keshalihan dan ibadah Mubarok memang unggul.


Saat Datang Kemujuran

Pd suatu ketika anak perempuan majikan Mubarok dilamar beberapa orang pria. Ditengah kebingungan siapa yg akan diterima lamarannya, majikan tsb konsultasi kpd Mubarok. 

Mubarok memberi jawaban kpd majikannya bhw orang kalau orang Yahudi menikahkan anak pertimbangannya adl harta, orang Nasrani adl keturunannya, orang Majusi adl parasnya. Sedangkan orang muslim maka menikahkan anak pertimbangannya adl agamanya.

Akhirnya majikannya menolak semua pelamar. Dan majikan tsb menikahkan anak perempuannya dg Mubarok, tukang kebunnya sendiri.

Pernikahan Mubarok seorang tukang kebun yg jujur dg anak majikannya kemudian melahirkan seorang anak yg kelak menjadi ulama besar, shalih, kaya raya dan ahli juhad fii sabilillah yaitu ABDULLAH BIN MUBAROK.

Itulah buah kejujuran; memang betul jujur itu menjadi mujur.

syaifuddin.manar@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar