Di pusat kota Jepara ada sebuah masjid yg terletak berhadapan dg Alun-alun kota Jepara.
Pd th1990-an sekian, takmir masjid saat menghitung kotak infak hari jum'at senantiasa berfikir dan bertanya-tanya; perkaranya di kotak infak tsb ada uang 50 ribuan ditengah uang-uang recehan.
uang 50 ribuan yg tidak memiliki teman itu senantiasa ada dikotak infak tiap hari jum'at dan hal itu berjalan bertahun-tahun. Tiada yg tau siapakah gerangan yg berinfak. Adanya uang 50 ribuan tiap jum'at yg tdk diketahui siapa yg berinfak sdh menjadi berita di masyarakat. Dan masyarakat juga tdk tau siapa orang yg murah hati yg berinfak tsb.
Hingga pada suatu saat ada seorang pemilik rumah makan di dekat Alun-alun kota Jepara meninggal dunia.
Beliau adl seorang haji yg aktif berjamaah di msjid dekat Alun-alun tsb.
Sejak meninggalnya pak haji pemilik rumah makan itu, uang 50 ribuan yg ada di kotak infak itupun tdk muncul lagi setiap hari jum'at seperti biasanya.
Sejak itulah Takmir masjid dan masyarakat baru tau bhw yg berinfak uang 50 ribuan itu adl pak haji, pemilik rumah makan di seberang masjid dekat Alun-alun Jepara tsb.
Maka tepat ungkapan pepatah jawa "Becik ketitik Ala ketara"
Perlu diketahui pak haji tsb adl salah seorang warga Muhammadiyah Jepara, yg rumahnya sering utk transit dai-dai Muhammadiyah dari luar kota Jepara utk bertabligh di kota ukir tsb.
Kisah ini sebagaiman dituturkan oleh Ust. Yunahar Ilyas saat pengajian Kamis Pagi di kantor PP. Muhammadiyah. (Sanad dan riwayat SHAHIH).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar